Bukti-Bukti Kehadiran Allah

No comment 496 views

Allah hadir di mana-mana.” Dia azh-Zhahir sekaligus al-Bathin. Dia adalah azh- Zhahir yakni Yang nampak dengan jelas bukti wujud dan keesaan-Nya. Nalar tidak dapat membayangkan betapa alam raya dapat wujud apalagi dengan segala keindahan, keserasian, dan keharmonisannya, tanpa kehadiran-Nya. Dia yang menunjukkan kepada kita kerajaan dan kekusaan-Nya, dengan menyadarkan kita bahwa dalil- dalil wujud-Nya terbentang di mana-mana. Segala sesuatu yang diciptakan-Nya—walau yang bisu sekalipun—adalah hujjah yang berbicara tentang wujud-Nya. Mata tidak melihat-Nya tetapi Dia berada di balik setiap ciptaan-Nya. Memang, Dia juga adalah al-Bathin yakni Yang tersembunyi hakikat, Dzat dan sifat-Nya, bukan karena tidak jelas, tetapi justru karena Dia sedemikian jelas, sehingga mata dan pikiran silau bahkan tumpul, tak mampu memandang-Nya. Seandainya matahari tidak beredar, maka kita dapat menduga bahwa cahaya yang terlihat di pentas bumi ini, bersumber dari masing-masing benda. Kita tidak akan menduga bahwa dia adalah akibat cahaya matahari. Tetapi karena matahari menghilang dari ufuk, dan terbenam, maka ketika itu kita sadar bahwa penyebabnya adalah matahari, dan bahwa matahari ada wujudnya. Jika demikian, tulis Fakhruddin ar-Razi (W. 1210 M) “Seandainya dimungkinkan ketiadaan wujud Allah di balik alam ini, maka ketika itu kita akan sepenuhnya yakin bahwa segala wujud adalah bersumber dari wujud Allah swt. Imam al-Ghazali menulis, “Ketersembunyian-Nya disebabkan oleh kejelasan-Nya yang luar biasa, dan kejelasan-Nya yang luar biasa disebabkan oleh ketersembunyian-Nya. Cahaya-Nya adalah tirai cahaya-Nya, karena semua yang melampaui batas akan berakibat sesuatu yang bertentangan dengannya. ”

Ayat-ayat yakni bukti-bukti dan tanda-tanda wujud dan keesaan- Nya terhampar di mana-mana. Ia tertuang dalam kitab suci-Nya, juga terhampar di alam raya yang merupakan ciptaan-Nya. Yang terhampar itu ada yang ditemukan pada diri manusia, secara individu atafu kolektif, dan ada juga pada benda-benda, atau peristiwa-peristiwa alam dan masyarakat.

Ayat-ayat itu menunjukkan bahwa Allah wujud dan “berada” di mana-mana. Ayat-ayat itu mampu membimbing manusia mencapai puncak evolusinya dan melaksanakan tugas-tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Ayat-ayat itu adalah pelajaran berharga bagi yang hendak memperhatikannya, sekaligus dapat menjadi siksa bagi yang mengabaikannya. Ayat-ayat dan tanda-tanda itu dapat juga merupakan latihan olah jiwa yang pada akhirnya menjadikan wawasan pemerhatinya, meluas melampaui alam fisika, masuk ke alam metafisika sambil merasakan kenikmatan ruhani.

Ayat-ayat/tanda-tanda Allah itu sangat jelas, lagi sesuai dengan tingkat pemikiran siapa pun. Ia sangat rapi dan siap untuk dipahami dan dihayati oleh setiap hamba-Nya. Orang kebanyakan dapat memahaminya setingkat dengan pengetahuannya, dan ayat yang sama dapat dipahami oleh ilmuwan dan cendekiawan sejalan dengan keahliannya, lalu masing- masing dapat menarik pelajaran darinya. Ayat-ayat itu di samping memuaskan nalar juga menenangkan pikiran dan menyucikan hati. Siapa yang pada mulanya menemukan kesulitan dalam memahaminya, maka Allah berjanji akan mempermudah baginya. Demikian firman-Nya yang yang dikuatkan-Nya dengan sumpah menyangkut Al -Qur’an dan itu dinyatakan-Nya berulang-ulang pada QS. al-Qamar  [54] ayat 17, 22, 32 dan 40. Allah berfirman:

“Sungguh (Kami bersumpah bahwa) Kami telah mempermudah Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran, maka adakah yang (ingin) mengambil pelajaran (sehingga Allah melimpahkan karunia dan membantunya memahami kitab suci itu)?”

Menyangkut ayat-ayat-Nya di alam raya Dia berjanji bahwa:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia adalah haq/ benar” (QS. Fushshilat [41]: 53).

Kata Kami yang digunakan ayat 41 surah Fushshilat ini, mengandung isyarat tentang perlunya keterlibatan dan kesungguhan manusia untuk merenung dan memperhatikan agar Allah turun tangan memperlihatkan makna dan pesan ayat-ayat-Nya.

Harus diingat bahwa memperhatikan ayat-ayat Allah, tidak hanya dengan kecerdasan berpikir atau mata kepala, tetapi juga dengan kecerdasan spiritual dan emosional, atau mata hati. Itulah yang mengantar kepada pertemuan dengan-Nya yang ditandai oleh ayat-ayat itu, yakni dengan Allah swt. Tanpa keterlibatan kecerdasan emosional dan spiritual, tanda-tanda itu tidak akan terjangkau, persis seperti seseorang yang akan menikmati merdunya musik, dengan menggunakan matanya sambil menutup telinganya. Inilah yang menjadikan sementara orang pada masa Jahiliah yang lalu—atas nama takhyul dan tradisi—atau masa Jahiliah modern dewasa ini atas nama penelitian dan eksperimen—menjadikan mereka semua tidak memahami kecuali fenomena yang mereka lihat dengan mata kepala dan melupakan siapa di balik fenomena itu, atau dalam bahasa Al-Qur’an:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”(QS. ar-Rum [30]:7).

Ada satu peringatan yang digarisbawahi-Nya yaitu:

“Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang sangat angkuh di bumi tanpa haq. Mereka itu, jika melihat setiap ayat mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak menjadikannya jalan, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menjadikannya jalan. Yang demikian itu disebabkan karena mereka mendustakan ayat- ayat Kami dan mereka terhadapnya selalu lalai” (QS. al-A‘raf [7]:146).

Ayat di atas merupakan ancaman kepada setiap yang angkuh bahwa Allah akan memalingkan mereka melihat dengan pandangan i’tibar ayat-ayat Allah, baik yang terhampar di alam raya, maupun yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, walau seandainya mereka melihat ayat-ayat tersebut dengan pandangan mata atau mengetahui dengan nalar aneka fenomena, mereka tetap tidak dapat memungsikan dan memanfaatkannya sebagai bukti keesaan dan kekuasaan Allah swt, dan tidak juga dapat mengantarnya memahami makna hidup dan fungsi manusia dalam pentas bumi ini. Itu karena -boleh jadi- mereka memandangnya  sebagai sihir, atau mitos, atau boleh jadi juga karena mereka melihatnya semata-mata sebagai fenomena alam dan tidak mengaitkannya sedikitpun dengan Allah swt

Ketika sebuah gelas terjatuh ke bawah, maka hal ini sungguh mengagumkan. Tetapi, karena ia telah terjadi berulang-ulang, maka terjadi pula erosi kekaguman akibat kebiasaan-kebiasaan itu, baik karena kita mengetahui penyebabnya yakni daya tarik bumi, maupun tidak. Gelas yang sama yang berada di luar angkasa atau di luar jangkauan daya tarik bumi, tidak akan terjatuh ke bawah, tetapi akan mengawang-awang di angkasa. Ini sungguh menakjubkan karena ia tidak sering kita lihat. Kedua peristiwa itu sebenarnya pada mulanya sama saja mengagumkannya. Alam raya dengan segala peristiwanya adalah ayat-ayat. Setiap orang semestinya percaya dan mengakui sepenuhnya bahwa kesemuanya berjalan konsisten sesuai dengan hukum-hukum yang ditetapkan Allah. Tetapi, pada saat yang sama, setiap Muslim pun harus sadar bahwa tidak tertutup kemungkinan bagi terjadinya peristiwa-peristiwa yang berbeda dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita lihat itu—bila Allah menghendaki—karena baik yang terlihat sehari-hari maupun yang tidak biasa terlihat, keduanya pada hakikatnya adalah ayat-ayat Allah.

Keduanya sama menakjubkan serta mengagumkan, hanya saja yang pertama telah mengalami erosi karena kebiasaan dan vana kedua belum mengalaminya. Bagi seorang Mukmin, kebiasaan-kebiasaan itu tidak menjadikannya kehilangan kekaguman, apalagi menjadikannya melupakan Allah, Yang menetapkan dan mengatur semua itu, dan yang menjadi Penyebab segala sebab, kendati sang Mukmin mengetahui hukum alam menyangkut terjadinya kebiasaan-kebiasaan itu. Adapun yang angkuh, maka walaupun ia mengetahui rahasianya, lebih-lebih kalau ia telah mengetahui hukum alam yang berkaitan dengannya, maka ia tidak melihat atau memahami pada peristiwa-peristiwa itu kemahakuasaan Allah swt. Ini, karena dia berpaling dan Allah pun karena sikapnya itu lebih memalingkannya dari ayat-ayat itu. Itulah akibat keangkuhannya, baik keangkuhan ilmiah maupun selainnya.

Mengabaikan tanda-tanda kehadiran Allah, menjadikan hati gersang dan kacau, dan ini pada gilirannya mengundang menjauhnya rahmat Allah dan datangnya bencana. Semoga kita semua terpelihara dari bencana serta dapat menangkap dan menghayati ayat-ayat Allah, baik yang terhampar maupun yang tertulis. Demikian, Wa Allah A ‘lam.

Dikutip dari : M. Quraish Shihab. Dia Dimana-Mana

author
No Response

Leave a reply "Bukti-Bukti Kehadiran Allah"