Bintang (Part 1) oleh M. Quraish Shihab

No comment 446 views

Bintang adalah benda langit yang terdiri atas gas menyala, seperti matahari. Nebula atau gumpalan awan terdiri dari debu dan gas. Bagian tebal dari nebula memadat dan itulah yang kemudian menjadi bintang.

Dalam galaksi kita terdapat banyak sekali bintang. Tidak cukup umur kita untuk menghitungnya. Anda dapat mencoba menghitung dari satu sampai seratus. Mungkin Anda memerlukan waktu lima puluh detik. Bila usia Anda mencapai seratus tahun, maka Anda hanya bisa menghitung bilangan 31.7 juta x 100/50 x 100 = 6340 juta. Itu sejak bayi tanpa istirahat. Demikian tulis Harun Yahya.

“Jumlah bintang dalam galaksi diperkirakan lebih dari 6 milyar bahkan boleh j adi mencapai 100 milyar, tetapi hanya sekitar 6.000 bintang yang dapat kita amati dengan mata telanjang. 300 di antaranya di atas horizon dan separuh lagi dibawahnya.” Demikian tulis ilmuwan muslim itu. Yang terlihat itupun hanya bagaikan bintik-bintik yang berkedip-kedip. Benda angkasa itu sangat berbeda-beda suhu, warna, ukuran dan kepadatannya. Yang paling panas, warnanya putih kebiru-biruan, dan suhu permukaannya mencapai lebih dari 20.000 °C. Matahari kita adalah bintang yang berwarna kuning. Ini menandai bahwa suhunya relatif lebih dingin daripada bintang yang berwarna putih kebiru-biruan itu.

Pakar-pakar ilmu pengetahuan mengemukakan bahwa dari

benda panas yang bercahaya itu lahir sinar yang dapat terlihat di samping yang tidak terlihat. Cahaya atau sinar bintang-bintang itu ada yang sedemikian terangnya sehingga melebihi ratusan atau ribuan kali cahaya/sinar matahari, tetapi ada juga sebaliknya yangsedemikian redup ratusan atau ribuan kali dari sinar matahari.

Bintang-bintang tersebut ada yang sedemikian besar, sehingga melebihi ribuan bahkan jutaan kali matahari. Sementara pakar memperkirakan, jarak antara planet tatasurya dengan bintang yang terdekat kepadanya, sekitar 4000 tahun cahaya, sedang ini berarti bintang yang terdekat kepada kita berada pada kejauhan sekitar 104.000.000.000 mil. Subhana Allah. Alangkah luas dan jauhnya!.

Cahaya bintang yang terdekat ke bumi, Alpha Centauri, memerlukan lebih dari 4 tahun untuk mencapai bumi, sedang cahaya dan bintang yang tampak terjauh, Riga, memerlukan waktu lebih dari 1000 tahun untuk mencapainya, padahal cahaya matahari hanya memerlukan lebih sedikit dan empat menit untuk mencapai bumi.

Kalau Anda menyadari kehebatan dan keindahan bintang-bintang, maka pasti akan menemukan Tuhan di balik itu semua dan menemukan juga pemeliharaan-Nya terhadap bintang-bintang itu sekaligus pemeliharaan-Nya kepada manusia antara lain melalui bintang-bintang ciptaan-Nya.

Dengan cahaya bintang, manusia dapat melakukan sesuatu tanpa terganggu oleh kegelapan malam; salah satu di antaranya adalah bahwa bintang-bintang tersebut menjadi tanda-tanda arah perjalannya, sebagaimana firman-Nya:

Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk (jalan)” (QS. an-Nahl [16]: 16).

Fungsi bintang sebagai tanda-tanda bagi para pejalan memberi kesan bahwa ia, tetap dalam posisinya dan tidak bergerak-gerak. Karena, jika bergerak maka bagaimana ia dapat dijadikan tanda? Sebenarnya keadaannya tidaklah demikian, tetapi karena posisinya begitu jauh dari bumi, kejauhan yang sulit digambarkan, maka cahaya bintang-bintang itu terlihat tidak bergerak. Bukankah kita melihat sesuatu yang bergerak cepat dari arah jauh, bagaikan tidak bergerak?

Di sisi lain, menurut para pakar, sebagian bintang yang hingga kini terlihat cahayanya itu, sebenarnya sudah punah, namun demikian, cahayanya baru kita lihat, karena jarak posisinya dengan posisi kita begitu jauh, sehingga cahaya yang tadinya ada itu, memerlukan waktu yang sedemikian lama untuk sampai pada jarak pandangan kita dan itupun terlihat amat kecil. Anda dapat membayangkan betapa hebat bintang tersebut, dan tentunya amat sulit bagi kita untuk menjangkau hakikatnya. Bukan saja karena ia boleh jadi telah punah, tetapi juga seandainya pun ia belum punah, maka jaraknya yang begitu jauh menjadikan maksud untuk menjangkaunya amat sulit atau mustahil. Dari sini, kita dapat memahami mengapa Allah menggunakan istilah “Wa ma adraka ” yakni apakah yang menjadikan engkau tahu, ketika berbicara tentang bintang (baca QS. at-Thariq [86 ]: 2). Istilah itu terulang di dalam Al-Qur’an sebanyak tiga belas kali dan digunakannya untuk memberi kesan kehebatan sekaligus kesulitan atau bahkan kemustahilan akal manusia untuk menjangkau hakikat sesuatu yang dipertanyakannya, seperti surga, neraka, kiamat, bintang dan sebagainya.

Sejak awal peradaban umat manusia sampai sekarang, benda- benda langit merupakan tanda dan petunjuk perjalanan manusia, baik di darat maupun di laut. Dengan meneropong matahari, bulan dan bintang, seseorang yang akan bepergian dapat menentukan arah yang hendak dituju. Bahkan, para antariksawan belakangan ini, berpedoman pada matahari dan bintang dalam menentukan arah perjalanan pada suatu masa tertentu. Mereka juga menggunakan gugus bintang dalam menentukan waktu, seperti gugus Bintang Biduk. Dengan demikian, manusia dapat mengenal tempat dan waktu melalui bantuan bintang, persis seperti yang diisyaratkan QS. an-Nahl [16]: 16 yang penulis kutip di atas.

Yang terakhir disebut oleh Al-Qur’an sebagai tuj uan penciptaan bintangadalah untuk menjadi hiasan bagi langit sehingga dapat dinikmati keindahannya oleh manusia (baca QS. al-Mulk [67]. 5).

Sebagian orang lengah menyangkut bintang. Mereka menduga bintangadalah tuhan. Nabi Ibrahim as. dalam konteks membuktikan kepada kaumnya tentang keesaan Allah dan ketidakwajaran bintang untuk disembah pernah menyatakan bahwa “bintang adalah Tuhannya” tetapi pernyataannya itu segera dinafikannya sendiri, setelah melihat bahwa cahaya bintang terlihat pudar, dan tidak konsisten (baca QS. al- An‘am [6]: 76).

Allah yang menciptakan alam raya, termasuk bintang yang menembus kegelapan malam, dan yang amat sulit diketahui bagaimana hakikatnya, sekaligus sulit dijangkau oleh akal bagaimana cara pemeliharaan Allah terhadapnya dan terhadap benda-benda langit lainnya. Allah bersumpah dengan hal-hal tersebut untuk menekankan bahwa tidak satu jiwa pun, kecuali ada pemelihara dan pengawasnya (baca QS. ath-Thariq [86]: 4).

Manusia bergerak dengan bebas di siang hari, matahari dengan sinar dan kehangatannya sangat membantu manusia dalam segala aktivitasnya. Tetapi, apabila malam telah tiba dan kegelapan menyelubungi lingkungannya, apalagi jika bulan masih sabit, ketika itu Allah tidak membiarkan manusia tanpa pemeliharaan dan perlindungan. Salah satu bentuk pemeliharaan-Nya adalah melalui bintang-bintang yang darinya manusia dapat mengetahui arah.

Manusia yang melakukan kejahatan atau hal-hal yang negatif ingin menutupi kesalahannya agar tidak diketahui orang, ia tidak ingin ada cahaya yang dapat menerangi perbuatannya itu. Tuhan bersumpah dalam QS. at-Thariq [86] itu sambil berpesan bahwa j angankan kegelapan yang meliputi kejahatan, kegelapan malam pun dapat ditembus oleh Allah. Buktinya adalah kuasa-Nya menciptakan bintang yang menembus kegelapan malam. Kejahatan yang dilakukan dengan tersembunyi juga akan dapat terungkap dan diketahui melalui malaikat-malaikat yang diciptakan Allah untuk tujuan tersebut. Bintang menembus kegelapan malam sedang pengawas menembus kegelapan rahasia kejahatan/ keburukan manusia. Demikianlah, sekali lagi, kita menemukan Allah swt. di sana dan menemukan juga pemeliharaan-Nya. Demikian, Wa Allah A‘lam.[]

 

Dikutip dari : M. Quraish Shihab – Dia di Mana-Mana

author
No Response

Leave a reply "Bintang (Part 1) oleh M. Quraish Shihab"